MATERI PEPTIDA DAN IKATAN PEPTIDA
peptida dan ikatan peptida
- Peptida
Peptida adalah beberapa molekul asam amino dapat berikatan satu dengan
lain membentuk suatu senyawa. Apabila jumlah asam amino yang berikatan tidak
lebih dari sepuluh molekul disebut oligopeptida. Peptida yang dibentuk oleh dua
asam amino disebut dipeptida. Selanjutnya tripeptida dan tetrapeptida ialah
peptida yang terdiri atas tiga molekul dan empat molekul asam amino. Delapan
asam amino dengan demikian akan membentuk oktapeptida.
2.
Ikatan
peptida adalah ikatan yang terbentuk antara atom C karboksilat asam amino
dengan atom N amina dari asam amino lainnya. Pada prosesnya, reaksi ini
melepaskan sebuah molekul H2O :
Suatu peptida ialah suatu amida yang dibentuk dari dua asam amino atau lebih. Ikatan amida antra suatu gugus a-amino dari suatu asam amino dan gugus karboksil dari asam amino lain disebut ikatan peptida. Contoh peptida berikut yang dibentuk dari alanina dan glisina, disebut alanilglisina, menggambarkan suatu ikatan peptida.
a. Sifat-Peptida
Sifat peptida ditentukan oleh gugus –NH2, gugus –COOH, dan gugus R. Sifat asam dan basa ditentukan oleh gugus –COOH dan –NH2, namun pada peptida rantai panjang, gugus –COOH dan –NH2 tidak lagi berpengaruh. Suatu peptida juga mempunyai titik isoelektrik seperti pada asam amino.
Sifat peptida ditentukan oleh gugus –NH2, gugus –COOH, dan gugus R. Sifat asam dan basa ditentukan oleh gugus –COOH dan –NH2, namun pada peptida rantai panjang, gugus –COOH dan –NH2 tidak lagi berpengaruh. Suatu peptida juga mempunyai titik isoelektrik seperti pada asam amino.
Sintesis peptida dilakukan dengan menggabungkan gugus karboksil salah
satu asam amino dengan gugus amina dari asam
amino yang lain. Sintesis peptida dimulai dari C-terminus (gugus karboksil) ke
N-terminus (gugus amin), seperti yang terjadi secara alami pada organisme.
Namun, untuk mensintesis peptida, tidak semudah mencampurkan asam amino begitu
saja. Seperti contohnya: mencampurkan glutamine (E) dan serine (S) dapat
menghasilkan E-S, S-E, S-S, E-E, dan bahkan polipeptida seperti
E-S-S-E-E. Untuk menghindari asam amino berikatan tidak terkendali, perlu
dilakukan perlindungan dan kontrol terhadap ikatan peptida yang akan terjadis
sehingga ikatan yang terbentuk sesuai dengan yang diinginkan. Langkah-langkah
sintesis peptida adalah sebagai berikut: asam amino ditambahkan gugus proteksi.
Kemudian asam amino yang diproteksi dilarutkan dalam pelarut seperti
dimetyhlformamide (DMF) yand digabungkan dengan coupling reagents dipompa
melalui kolom sintesis. Grup proteksi dihilangkan dari asam amino melalui
reaksi deproteksi. Kemudian pereaksi deproteksi dihilangkan agar tercipta
suasana penggabungan yang bersih. Coupling reagents, contohnya
N,N'-dicyclohexylcarbodiimide (DCCI), membantu pembentukan ikatan peptida.
Setelah reaksi coupling terbentuk, coupling reagents dicuci
untuk menciptakan suasana deproteksi yang bersih. Proses proteksi, deproteksi,
dan coupling ini terus dilakukan berulang-ulang hingga tercipta peptida yang
diinginkan.
- Kelas peptida
Peptida dapat dikelompokkan menurut kemiripan struktur dan fungsinya.
Peptida Ribosomal
Peptida ribosomal disintesis dari translasi
mRNA. Peptida ini berfungsi sebagai hormon dan molekul signal pada organisme
tingkat tinggi. Secara umum, peptida ini mempunyai strukstur linear.
Peptida non-Ribosomal
Peptida non-Ribosomal disintesis dengan
kompleks enzim. Peptida ini terdapat pada organisme uniselular, tanaman,
dan fungi. Pada
peptida ini terdapat struktur inti yang kompleks dan mengandung pengaturan yang
berbeda-beda untuk melakukan manipulasi kimia untuk menghasilkan suatu produk.
Secara umum, peptida ini berbentuk siklik, walaupun ada juga yang berbentuk linear.
Peptida Hasil Digesti (Digested peptides)
Peptida ini terbentuk dari hasil proteolisis non-spesifik
dalam siklus digesti. Peptida hasil digesti secara umum merupakan peptida
ribosomal, akan tetapi tidak dibentuk dari translasi mRNA. Peptida ini juga
dapat dibentuk dari protein [yang didigesti dengan proteasespesifik,
seperti digesti trypsin yang sering dilakukan sebelum mass spectrometry
peptide analysis.
- PEPTIDOMIMETIK
Peptidomimetik adalah rantai kecil seperti protein yang dirancang untuk
meniru peptida. Peptida yang disebut Adipotide telah dikembangkan oleh para
peneliti AS dalam perang melawan obesitas. Perlakuan eksperimental ini telah
mengurangi sebanyak 11% berat monyet yang diobati dengan mengurangi jaringan
lemak, BMI, dan lingkar pinggang.
Aditpotide adalah eksperimental penurunan berat badan peptidomimetik dengan
urutan asam amino CKGGRAKDC-GG-D (KLAKLAK) 2, yang telah dikembangkan oleh para
peneliti di Amerika Serikat dalam upaya melawan obesitas. senyawa seperti
peptida, Adipotide, mampu membunuh sel-sel lemak sehingga menyebabkan penurunan
volume dan massa lemak subkutan, dan ini pada gilirannya menyebabkan penurunan
berat badan. Adipotida mampu membunuh adiposit (sel-sel lemak) dengan selektif
menyebabkan kematian sel terprogram (apoptosis) dari pembuluh darah memasok
adiposit. Karena kekurangan pasokan nutrisi, kelaparan berikutnya (yang
menyebabkan atrofi seluler atau penurunan ukuran sel) dan akumulasi produk
limbah di adiposit; cedera ireversibel terjadi dan ini menyebabkan mitokondria
untuk melepaskan enzim protease yang disebut caspases (faktor spesifik yang
memulai proses apoptosis) yang mengaktifkan transkripsi (proses dimana DNA
digunakan untuk menciptakan mRNA) dan translasi (sebuah proses dimana mRNA
digunakan untuk membuat peptida primer yang baru lahir) dari urutan gen yang akhirnya
mengarah pada produksi protein yang mempengaruhi proses apoptosis.
Protease adalah enzim penting yang dapat memecah protein dan peptida dengan
membelah hubungan antara dua asam amino berturut-turut dalam rantai yang
membentuk ini. Enzim seperti itu sering memiliki peran kunci dalam berbagai
proses fisiologis, yang melibatkan segala sesuatu mulai dari konsepsi dan
kelahiran hingga penuaan dan kematian. Protein serin adalah subset protease dan
memiliki nama dari serin asam amino, yang merupakan bagian penting dari situs
aktif protease. Cacat fungsional pada protease serin terlibat dalam berbagai
penyakit termasuk kanker, stroke, diabetes, COPD dan cystic fibrosis. Inhibitor
protease serin telah terbukti bermanfaat sebagai obat untuk pengobatan penyakit
ini.
Tujuan utama dari proyek ini adalah mengembangkan molekul yang memiliki
kemampuan untuk mengatur aktivitas proteasease serin Proteinase 3 (PR3).
Meskipun PR3 secara alami hadir dalam sel darah putih pada individu yang sehat
dan sangat penting untuk sistem kekebalan berfungsi dengan baik, kerusakan PR3
dapat dikaitkan dengan beberapa penyakit, termasuk granulomatosis dan leukemia
Wegener. Proyek ini telah mengembangkan metode untuk produksi kimia
peptidomimetika, yaitu molekul yang dapat meniru peptida. Metode ini lebih
lanjut digunakan untuk menghasilkan inhibitor PR3 yang meniru peptida sebagai
PR3 biasanya mampu memecah. Beberapa inhibitor yang diproduksi terbukti
selektif untuk PR3 bila dibandingkan dengan enzim yang terkait erat. Hasil yang
diperoleh membentuk dasar untuk pengembangan lebih lanjut inhibitor untuk PR3.
- Apa keuntungan
dari pembelajaran peptida dan ikatan peptida?
- Bagaimana
mekanisme pembentukan ikatan peptida?
- Kenapa ikatan
peptida hanya bisa terbentuk dari dua atau lebih asam amino?
haloo naura, postingan artikelnya menarik nih..
BalasHapusjangan lupa buat upload artikel-artikel lainnya lagi yaaa
Insyaallah Dillah dan Trimakasih sudah berkunjung
Hapushaloo naura, postingan artikelnya menarik nih..
BalasHapusjangan lupa buat upload artikel-artikel lainnya lagi yaaa
Iyaa ike, trimakasih respon positif nya
HapusIkatan peptida yang terjadi dari dua residu asam amino menunjukkan kemantapan resonansi yang tinggi; ikatan C – N akan mempunyai sifat ikatan rangkap sebesar 40 %, dan ikatan rangkap C = O mempunyai sifat ikatan tunggal sebesar 40 %. Akibatnya, gugus amino (- NH -) dalam ikatan peptida tersebut tidak mengalami ionisasi, juga ikatan C – N dalam peptida tidak mengalami rotasi dengan bebas. Hal ini merupakan faktor penting dalam menentukan struktur tiga dimensi dan sifat rantai polipeptida dari protein
BalasHapusTrimakasih jwabannya,coba saudara jelaskan Ikatan peptida yang menunjukkan kemantapan resonansi yang tinggi?
Hapusdua residu asam amino menunjukkan kemantapan resonansi yang tinggi; ikatan C – N akan mempunyai sifat ikatan rangkap sebesar 40 %, dan ikatan rangkap C = O mempunyai sifat ikatan tunggal sebesar 40 %. Akibatnya, gugus amino (- NH -) dalam ikatan peptida tersebut tidak mengalami ionisasi, juga ikatan C – N dalam peptida tidak
HapusContoh nya yaitu pada peptida asam amino glisin peptida ini terimakasij
Trimakasih lexa telah mengunjungi blog kmi
HapusHallo naura artikel anda cukup bagus
BalasHapusTrimakasih kak
HapusHallo Naura.
BalasHapusArtikelnya sangat bermanfaat. Terimakasih
Trimakasih kembali telah mengunjungi blog kmi
HapusIkatan peptida yang terjadi dari dua residu asam amino menunjukkan kemantapan resonansi yang tinggi; ikatan C – N akan mempunyai sifat ikatan rangkap sebesar 40 %, dan ikatan rangkap C = O mempunyai sifat ikatan tunggal sebesar 40 %. Akibatnya, gugus amino (- NH -) dalam ikatan peptida tersebut tidak mengalami ionisasi, juga ikatan C – N dalam peptida tidak mengalami rotasi dengan bebas. Hal ini merupakan faktor penting dalam menentukan struktur tiga dimensi dan sifat rantai polipeptida dari protein
BalasHapusTrimakasih jwabannya,coba saudara jelaskan Ikatan peptida yang menunjukkan kemantapan resonansi yang tinggi?
HapusHai naura. Pemaparan artikelnya sangat baik. Terus memposting artikel lainnya yg dapat menambah pembelajaran
BalasHapusIyaa dan Trimakasih kembali telah mengunjungi blog kmi
HapusHai nau artikel ya bermanfaat buat saya yg lagi cari materi ini
BalasHapusAlhamdulillah,trimaksih telah mengunjungi blog kami kak
HapusHai nau artikel ya bermanfaat buat saya yg lagi cari materi ini
BalasHapusTrimakasih kakak telah mengunjungi blog kmi
HapusHay kak Naura terima kasih artikelnya sangat membantu
BalasHapusSyukurlah dan Trimakasih kembali telah mengunjungi blog kmi
Hapushai, artikelnya menambah pengetahuan pembaca terimakasih :)
BalasHapusHai Naurah. Artikel yang sangat menarik. saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 3.
BalasHapuspeptida hanya bisa dibentuk dari dua atau lebih asama amino dikarenakan dua asam amino atau lebih tersebut akan saling berikatan membentuk ikatan peptida dan apabila hanya satu asam amino, maka ia hanya berupa asam amino saja dikarenakan ia tidak mengikat apapun.
Terimakasih
Trimakasih Atawa jwabannya Widya. Jadi setiap asam amino apakah memiliki ikatan peptida?
HapusHai Naura, jawaban no 3 menurut saya peptida hanya bisa dibentuk dari dua atau lebih asama amino dikarenakan dua asam amino atau lebih tersebut akan saling berikatan membentuk ikatan peptida dan apabila hanya satu asam amino, maka ia hanya berupa asam amino saja dikarenakan ia tidak mengikat apapun.
BalasHapusTerimakasih
Trimakasih atas jwabannya
Hapushy naura artikel anda sangat membantu saya
BalasHapusterimakasih
Trimakasih kembali sindy telah mengunjungi blog sya
Hapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 3.
BalasHapuspeptida hanya bisa dibentuk dari dua atau lebih asama amino dikarenakan dua asam amino atau lebih tersebut akan saling berikatan membentuk ikatan peptida dan apabila hanya satu asam amino, maka ia hanya berupa asam amino saja dikarenakan ia tidak mengikat apapun.
Terimakasih
mari gabung bersama kami di Aj0QQ*c0M
BalasHapusBONUS CASHBACK 0.3% setiap senin
BONUS REFERAL 20% seumur hidup.